Rabu, 30 April 2008

budya coy

   Setelah membaca tulisan yang berjudul tentang “Sejarah Kebudayaan Indonesia Masuk Globalisasi Umat Manusia”, saya bisa menggatakan bahwa dalam perjalanannya, bangsa Indonesia telah menggalami banyak pertemuan dengan budaya asing yang menggakibatkan percampuran antara budaya asli bangsa ini dengan budaya asing tersebut. Sebagai akibat dari adanya percampuran budaya tersebut tentu saja banyak budaya-budaya baru yang muncul dan meliputi berbagai bidang dalam kehidupan masyarakat.

            Dalam pandangan sebagian golongan, ada yang menilai bahwa bangsa Indonesia dulunya merupakan bangsa yang tertinggal dari bangsa lain dalam hal kebudayaan dan disaat bangsa lain sudah menggenal apa yang dikatakan sebagai peradaban maju, bangsa ini masih berkutat dengan keprimitifan dan kebodohan.

Terlepas dari anggapan bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang tertinggal dari bangsa-bangsa maju dalam hal kebudayaan, ada hal positif yang boleh kita banggakan dari budaya bangsa Indonesia yang dianggap primitif dan merupakan budaya pertama yang dipunyai oleh bangsa ini, yaitu adanya sikap mental untuk bisa merasakan penderitaan orang lain disekitar dan rasa kekeluargaan yang sangat erat, sehingga hal ini mewujudkan budaya sikap kerjasama dan gotong royong, walaupun sikap tadi timbul dari rasa kekeluargaan dan kedaerahan yang berlebihan dan dipicu oleh adanya persaingan antar golongan untuk lebih memperkuat kekuasaan, namun itu merupakan suatu hal yang patut kita banggakan sebagai hal positif dari suatu kebudayaan primitif. 

Satu hal lagi yang boleh kita banggakan dari budaya asli kita, yaitu bersahaja yang dalam artian kesamaan derajat, sehingga kalau saja kita memegang teguh apa yang menjadi ciri dari budaya asli Indonesia maka yang terjadi adalah ras saling menghargai dan saling menjaga. Yang membedakan disini hanya usia dan kedudukan, pembedaan ini dapat diterima karena yang menjadi titik tolak suatu penghormatan adalah suatu hal yang alamiah, tentu hal ini berbeda dengan pembedaan yang didasarkan pada kekuasaan ataupun kekayaan yang sekarang masih banyak berlaku dalam masyarakat kita.

Meskipun dalam perjalanannya masyarakat Indonesia menggalami banyak pertemuan dengan kebudayaan yang berasal dari bangsa lain, sehingga menyebabkan terjadinya proses akulturasi atau percampuran antara budaya lokal dengan budaya asing, namun hal itu tidak dapat melenyapkan budaya asli yang dimiliki oleh bangsa ini, semangat gotong-royong dan kerjasama yang merupakan sisi baik dari kebudayaan asli Indonesia tetap ada, baik itu secara langsung maupun tidak langsung.

Percampuran budaya ini terjadi dikarenakan pada zaman dulu masyarakat kita telah menggenal dan melakukan kegiatan perdagangan dengan bangsa lain, sebut saja bangsa India, Portugis dan Spanyol. Kemudian masing-masing mereka pasti membawa budaya dari tempat asalnya, maka terjadinya proses akulturasi budaya merupakan suatu proses yang alami apabila terjadi suatu hubungan atau pertemuan antar manusia.  

Berangkat dari budaya lokal diatas, ketika penggaruh India masuk melalui perdagangan, masyarakat Indonesia yang telah mempunyai budaya sendiri pun tidak serta merta menerima budaya tersebut, tetapi lebih dahulu melalui preses percampuran yang melibatkan budaya lokal dan budaya asing. Proses ini mengakibatkan adanya perbedaan antara kebudayaan yang ada pada daerah asal budaya tersebut dengan budaya yang ada di Indonesia. Seperti agama hindu yang dibawa oleh bangsa India, pada tempat asalnya agama hindu menggenal sistem kasta dan sistem ini berlaku dengan sangat keras, dimana terdapat perbedaan yang sangat mencolok antara hak kaum sudra dengan hak kaum brahmana, ksatria ataupun waisya.

Datangnya pedagang dari India dengan membawa pengaruh agama hindu, tidak dapat dipungkiri adalah sebagai pembuka jalan pikiran bangsa Indonesia untuk lebih menggenal budaya bangsa lain yang lebih maju. Tapi dengan adanya sistem kasta yang dibawa, adalah merupakan bibit dari adanya feodalisme dalam masyarakat Indonesia yang terus bertahan sampai sekarang, walaupun sudah agak mendingan jika dibandingkan dengan zaman dahulu, dimana sistem ini berkembang dengan subur.

Meskipun masyarakat Indonesia tidak luput dari pengaruh tersebut, tapi sistem kasta yang ada berbeda dengan sistem kasta yang ada di India, di Indonesia sistem kasta yang ada diberlakukan dengan lebih lembut dan lebih menghargai kaum terendah (sudra), hal ini juga dikarenakan adanya peranan kebudayaan lokal yaitu budaya untuk menghargai sesama yang telah mengakar kuat dalam sendi-sendi kehidupan bangsa Indonesia, kelokalan itulah yang nampaknya berhasil meminimalisir dampak dari adanya sistem kasta.

Percampuran kebudayaan juga terjadi pada budaya Arab Islam yang juga dibawa oleh pedagang dari India, meskipun dalam budaya yang dibawa tidak terdapat sistem kasta yang nanti dalam perkembangannya menjadi sistem feodal, tapi oleh karena sistem feodal ini sudah mengakar kuat, maka yang terjadi adalah pemisahan dan pemecahan masyarakat menjadi beberapa kelompok, antara kelompok bangsawan yang dalam hal ini adalah para raja atau sultan dengan para rakyat jelata, padahal dalam islam sendiri tidak pernah ditemui ada ajaran yang memuat tentang pengelompokan manusia atas dasar kekuasaan.

Feodalisme yang telah mengakar dalam budaya masyarakat Indonesia adalah  merupakan satu bentuk pengklasifikasian dan pemecahan terhadap masyarakat kita, meskipun itu bukan merupakan budaya asli yang timbul dari masyarakat kita dan hanya merupakan satu bentuk yang terwujud dari proses percampuran kebudayaan. Akan tetapi permasalahan yang ditimbulkan oleh hal tersebut sangat besar peranannya, jika kita melihat apa yang berlaku dimasyarakat hari ini sangat jelas tergambar suatu budaya yang jika boleh saya menyebutnya adalah suatu kejahatan terhadap keadilan, dimana masyarakat yang miskin masih dibebani dengan keharusan memberi penghormatan terhadap kelompok masyarakat yang lebih kaya, padahal masyarakat miskin nyatanya lebih berhak untuk memperoleh penghormatan dari yang kaya.

  Hal yang patut diperhatikan disini adalah bagaimana suatu proses akulturasi budaya yang terjadi dalam perjalanan bangsa ini menuju bangsa yang lebih maju. Memang segala sesuatu yang ada pasti punya sisi negatif dan sisi positif, namun ini adalah resiko yang harus diambil dalam perjuangan untuk mewujudkan kualitas hidup yang lebih baik.

Meskipun angka merah telah diberikan pada nilai sejarah kebudayaan Indonesia dalam kaca mata pengetahuan dan diklasifikasikan sebagai bangsa yang primitif, kita tidak perlu menolaknya sebaliknya kita patut sadar bahwa pada dasarnya tidak ada bangsa yang begitu lahir langsung dapat membuat kapal terbang atau apapun yang berbau teknologi mutakhir, tapi mereka juga berangkat dari keprimitifan dan keterbelakangan. Namun mereka terdorong untuk mampu bangkit dari keprimitifan dan keterbelakangannya sehingga dapat menciptakan kualitas hidup yang lebih baik. Sekarang tinggal kita, apakah mau dan mampu bangkit dari segala ketertinggalan kita ataukah hanya diam dan merenung sambil menunggu datangnya malaikat yang membawa perubahan.

Bangsa melayu, yang dalam hal ini lebih merunjuk kepada bangsa Indonesia, dipandang rendah oleh sebagian golongan. Pandangan rendah itu diperoleh hampir dari semua segi, entah dari segi asal-mula datangnya manusia, kebudayaan, peradaban dan sistem pemikiran. Terlebih dari sudut budaya, mereka mengganggap bahwa dimasa lalu Indonesia tidak lebih dari bangsa primitif disaat bangsa barat telah menggenal apa yang dinamakan kebudayaan modern.

Namun seiring dengan perjalanannya, bangsa Indonesia secara berlahan tapi pasti mulai mengenal kebudayaan modern, hal ini tentunya tidak terlepas dari peranan adanya pertemuan dan percampuran dengan budaya lain. Sebut saja bangsa Belanda, salah satu bangsa yang telah menggenalkan pada bangsa ini pada apa yang disebut dengan kebudayaan modern.

Pada awalnya kedatangan bangsa Belanda ke Indonesia hanya untuk berdagang, namun setelah mengetahui bahwa bangsa ini merupakan bangsa yang kaya raya maka timbullah niat untuk menguasai dan mengeksploitasi semua yang ada dibumi nusantara. Penjajahan bangsa Belanda memang menyisakan duka yang sangat dalam dan menjadi lembaran suram dalam perjalanan bangsa ini, terlebih lagi bagi sebagian orang yang masih trauma akan keganasan penjajahan Belanda.

Tidak dapat diingkari bahwa kedatangan Belanda juga membawa berkah bagi bangsa ini, dimana terjadi pertukaran budaya antara budaya Indonesia dengan Belanda.

 

Tidak ada komentar: