Selasa, 29 April 2008

Menulis Itu Segampang Ngomong.

JUDUL : Menulis Itu Segampang Ngomong.
PENGARANG : Lasa Hs.
TAHUN : 2006.
PENERBIT : PINUS Book Publisher, Yogyakarta.
TEBAL : 229 Hal.

Banyak orang merasa bingung ketika didepannya terdapat kertas kosong yang harus diisi dengan tulisan, mereka cenderung minder dan merasa tidak mampu untuk menuliskan apa yang terkandung dalam otaknya, seakan-akan mereka begitu alergi terhadap tulis-menulis, itu adalah dunia para dewa yang tidak tersentuh dan diluar batas kemampuan manusia biasa. Memangnya adakah untuk menjadi penulis dibutuhkan bakat dan keturunan atau harus melakukan ritual bertapa dahulu untuk menjadi penulis yang berbobot, sampai-sampai mereka begitu sensitif terhadap dunia ini. Padahal menulis itu sama saja dengan ngomong, bedanya kalau menulis mencurahkan gagasan dalam bentuk tulisan, sedangkan ngomong langsung dengan lisan.
Banyak buku yang memuat tentang bagaimana menumbuhkan kecintaan terhadap dunia penulisan, kecintaan terhadap dunia tulisanlah yang membangkitkan kepedulian seorang penulis untuk bisa membuat orang lain merasakan apa yang dia rasakan, para penulis dengan berbagai gaya dan ragam bahasa yang digunakan mencoba membangkitkan semangat dan kemauan pembaca untuk mau menulis dan bisa mencintai dunia tersebut.
Seperti halnya Lasa Hs, seorang penulis yang dilahirkan di Boyolali pada tahun 1948 M, dia menyampaikan gagasannya mengenai dunia tulis-menulis yang digelutinya. Dalam bukunya yang berjudul “Menulis Itu Segampang Ngomong”, dia mencoba membuka pikiran pembaca mengenai dunia tulisan yang menurutnya adalah mengasikkan, mengandung nilai seni dan menyenangkan, dapat digunakan sebagai media pelepas stres, dan banyak lagi manfaat yang ditulis Lasa dalam bukunya tersebut.
Buku ini merupakan seri motivasi diri agar kita mau menulis, didalamnya terdapat beragam kiat-kiat jitu dan berbagai kisah pembangkit semangat agar kita mau menulis. Namun buku yang satu ini patut dijadikan referensi wajib bagi Anda yang memang berminat terhadap bidang tulis-menulis dan berniat untuk menekuninya.
Dengan cerdik Lasa mendaur-ulang doktrin yang ada pada masyarakat kemudian mengolah dan menyajikannya dengan gamblang dan menarik, para pembaca akan dibawa masuk dalam dunia pengarang yang selama ini digambarkan sebagai sesuatu yang sulit dan menakutkan. Karena banyak diantara mereka yang takut terhadap tulisan adalah orang yang berpendidikan tinggi, yang seharusnya dengan kapasitas intelektualnya dapat menghasilkan suatu tulisan yang bermutu, namun masih gagap ketika dihadapkan pada selembar kertas kosong.
Lasa mencoba mematahkan apa yang selama ini menjadi momok menakutkan dan membuka lembaran baru bagi orang yang akan menulis, diantaranya dengan melepaskan phobia masyarakat terhadap dunia tulis yang dianggap menakutkan bahkan hanya orang tertentu dan berbakat saja yang dapat memasuki dunia tersebat, dia berusaha meluruskan pemahaman tersebut. Ketakutan akan ditolak, dikritik maupun didebat menjadikan mereka enggan untuk mulai menulis, padahal untuk menjadi seorang penulis handal diperlukan proses yang panjang dan rumit, tidak bisa dalam sekejap langsung menjadi seorang maestro tulisan.
Ngomong (berbicara) merupakan kebiasaaan setiap manusia dan mereka bisa untuk itu, namun mengapa manusia tidak bisa mengungkapkan ide dalam otaknya dengan menulis seperti halnya ngomong, padahal diantara keduanya terdapat kesamaan yaitu sebagai media pengungkapan ide dan penyampaian maksud, pertanyaan inilah yang diungkap oleh Lasa dalam bukunya. Dengan mengulas sisi kehidupan manusia yang memang sejak bayi dibiasakan ngomong, Lasa menggangap bahwa menulis seperti halnya ngomong akan menjadi layak dan mudah bila dibiasakan. Jadi tidak ada alasan bagi seseorang untuk tidak bisa menulis kalau untuk ngomong saja dia bisa. tidak dengan menulis digunakan secara tepat oleh Lasa sebagai acuan dalam membangkitkan semangat menulis. berbagai argumen beserta fakta yang didukung data-data akurat dia tunjukkan untuk memperkuat yang kemukakan.
Berbagai alasan dan ketakutan dijadikan dalih untuk tidak menulis, padahal menurut Lasa menulis mempunyai banyak keuntungan yang didapatkan dari menulis diantaranya mengatasi ketakutan, membantu memecahkan masalah, menjernihkan pikiran, mengatasi trauma dan membantu memperoleh maupun menginggat informasi. Begitupun dengan peran penulis, sejarah telah mencatat betapa besar pengaruh tulisan terhadap perubahan sosial suatu negara, seorang Karl Marx dengan Das Kapital-nya telah membawa Rusia memasuki zaman baru, Sun Yat Sen mampu mengubah Cina berkat San Min Chu I, Imam al- Ghazali mampu menggugah gairah ibadah dan keilmuan dengan Ihya` Ulumuddin dan banyak lagi tokoh yang mampu berperan besar dengan penanya.
Mulai menulis tidak harus dengan tema yang berat atau penting, Lasa memberikan solusi tepat terkait dengan awal menulis yaitu dengan menulis pengalaman sehari-hari atau hal yang dialami, ini menjadi begitu penting terkait kepercayaan diri yang tumbuh seiring dengan seringnya menulis, oleh sebab itu jangan takut untuk mulai menuliskan gagasan dan ide, mulailah dengan hal yang terkecil yang mungkin dianggap sepele, sebagai latihan untuk lebih membiasakan diri dalam penerjemahan gagasan kedalam bahasa tulisan .
Lasa menyadarkan pembaca tentang keindahan dunia tulis-menulis dengan bahasa gamblang dan mudah dimengerti, tanpa membebani pembaca dengan bahasa atau istilah rumit yang memang sangat dihindari oleh penulis. Ini disengaja agar pembaca merasa bahwa mereka juga mampu untuk berkarya ataupun menerjemahkan gagasan dan ide mereka menjadi karya tulis seperti yang dihasilkan oleh Lasa. Strategi dan tahapan yang dihamparkan Lasa dalam bukunya adalah suatu tahapan yang sangat ideal bagi mereka yang memang buta sama sekali terhadap tradisi dan adat penulisan, ketika strategi ini mampu diterapkan dengan benar dan diterjemahkan oleh pembaca, maka proses untuk menjadi seorang penulis akan menjadi lebih mudah. Demikian pula dengan harapan pembaca untuk menjadi penulis yang kompeten adalah bukan hal yang mustahil.
Proses menuju penulis handal bukanlah semudah membalik telapak tangan tapi juga tidak sesulit memindah gunung itulah yang ditekankan oleh penulis kepada kita yang memang belum menekuni dunia tulis-menulis. Salah satu penekanan dalam buku ini adalah bahwa menulis itu mudah, semudah orang berbicara dengan bahasa yang sehari-hari. Yang menjadikan menulis seakan momok menakutkan adalah karena tidak biasa dikerjakan, berbeda dengan ngomong yang seakan telah menjadi santapan wajib sehari-hari, oleh karena itulah mengapa ketika ngomong orang merasa tidak ada beban. Maka dari itu Lasa menekankan agar setiap orang yang akan menekuni dunia menulis tidak memutus kesinambungan, meskipun tulisan yang dihasilkannya adalah tulisan jelek dan berantakan, karena hal ini ditujukan untuk membiasakan diri sehingga tidak ada perasaan canggung lagi ketika menulis dan terbiasa seperti saat ngomong.
Kelebihan dari pada buku ini terletak pada pemilihan kata dan susunan kalimat yang disusun sedemikian rupa, sehingga pembaca terasa enak membacanya, tanpa harus ada istilah-istilah ”intelek” yang biasa digunakan dalam penulisan ilmiah, sehingga pembaca dari lapisan terbawah pun bisa dengan mudah menangkap dan memahami pesan penulis. Alur yang disusun sedemikian rupa secara bertingkat secara tidak langsung dapat merangsang pikiran pembaca untuk lebih tertarik pada apa yang disampaikan penulis, dengan cerdas dia menggolah paragraf menjadi tangga pemikiran yang mudah untuk diikuti.
Namun jika Anda mencari tentang teknik menulis dalam buku ini, maka bersiaplah menelan kekecewaan, karena teknik yang dimaksudkan disini adalah metode dasar, karena memang penulis berorientasi terhadap pembangkitan gairah menulis bagi pembaca tidak untuk memperbaiki kualitas tulisan pembaca. Seri motivasi ini kurang menarik jika dibaca oleh mahasiswa atau kalangan akademis lainnya yang memang sudah terbiasa dengan tulisan baik berupa makalah atau paper, karena hanya memuat dorongan untuk menulis dan menulis tanpa ada kelanjutan bagi mereka yang telah menulis. Namun jika dipakai sebagai tambahan referensi dan wawasan kejiwaan maka hal ini tentu tidak ada salahnya.
Buku ini patut dibaca bagi siapa saja tak terkecuali bagi mereka yang berpendidikan terbatas jadi tidak hanya tertentu pada lapisan atas yang notabenenya adalah kaum intelektual, karena yang menjadi acuan penulis adalah bagaimana membuka pikiran masyarakat tentang arti pentingnya tulisan. Namun akan lebih menggena lagi jika para pembaca dari buku ini adalah mereka yang berpengetahuan dan berwawasan luas yang dalam hal ini dimiliki oleh mereka yang berpendidikan, karena mereka mempunyai banyak materi dan pandangan luas mengenai bidang yang menjadi otoritas keilmuannya yang tentunya sangat berkaitan erat dengan dunia tulis-menulis.

Tidak ada komentar: